Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 07:40:23 WIB
RAKYAT SUMBAR

Antisipasi Krisis Pangan

Beras Solok Tembus Rp 10.000/liter

Padang Ekspres • Selasa, 08/11/2011 13:01 WIB • (mg9) • 321 klik

Pasbar, Padek—Bencana banjir yang melanda Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) sejak empat hari terakhir, menyisakan bengkalai. Perekonomian masyarakat yang umumnya petani, terganggu.


Sekitar 200 hektare lahan pertanian siap tanam dan panen, rusak terendam banjir. Akibatnya, masyarakat Pasbar terancam krisis pangan.
Sedangkan di Kabupaten Solok, dampak banjir mulai dirasakan warga setempat. Negeri penghasil beras itu, kini mulai dihantui krisis beras kualitas nomor wahid di Indonesia itu.

 
Dua hari terakhir, harga beras solok terus merangkai naik. Untuk beras asokan, harganya mencapai Rp 10 ribu seliter. Tak ayal, warga mulai kelimpungan mendapat beras mengingat ancaman kelangkaan beras bakal berlangsung lama. Ratusan hektare sawah siap panen dipastikan puso atau gagal panen.


Lebih parah lagi, ancaman gagal panen melanda Pesisir Selatan, menyusul 10 kecamatannya terendam banjir. Ribuan hektare sawah di daerah itu terancam puso.


Data sementara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (Dipertahornak) Pasbar, lahan pertanian berupa padi, jagung dan sawit yang rusak akibat banjir terdapat di tiga kecamatan; Kecamatan Pasaman, Sasak Ranah Pasisia dan Kinali.


Rinciannya, di Kecamatan Pasaman lahan jagung seluas 125 ha, dan Kinali 12 ha. Lahan padi di Kecamatan Pasaman 50 ha, dan Kinali 10 ha. Lahan kedelai seluas 2,5 ha terdapat di Kecamatan Pasaman dan Kinali.


Kemudian lahan sawah di Rantaupanjang, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia seluas 250 ha, lahan jagung seluas 100 ha dan tanaman lainnya, seperti kelapa sawit 50 ha.


“Itu baru tanaman yang siap panen,” kata Kepala (Dipertahornak) Pasbar, Johnniwar kepada Padang Ekspres kemarin. Johnniwar mengaku belum bisa memastikan total kerugian karena masih dalam pendataan. Para petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki dan membersihkan lahan-lahan pertanian yang rusak tersebut.


“Kita akan berusaha bagaimana caranya membantu masyarakat, khususnya petani yang lahannya terkena banjir. Salah satunya dengan memberikan bantuan berupa bibit atau sejenisnya,” jelas Johnniwar.


Sementara itu, di Rantaupanjang, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia, dilaporkan 8 orang terserang penyakit diare. Tak hanya merusak lahan pertanian, banjir juga mengakibatkan jalan amblas di Sawah Mudiak Kecamatan Ranahbatahan sepanjang 20 meter.


Di Aek Nabirong, juga terjadi lonsor dan menimbun jalan sepanjang 25 meter. Akibatnya, jalan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan menuju Kampung Sigantang.


Camat Sasak Ranah Pasisia, Yanuardi mengatakan, Pemkab telah menyalurkan bantuan kepada korban banjir berupa makanan seperti sarden, indomie 20 karton, dan beras. Selain itu, bantuan obat-obatan dari PMI, 6 tenda untuk Rantaupanjang dari TNI 3 buah, dan BPBD Pasbar 4 buah.


Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pasbar, Nofdinal Yefri menambahkan, pihaknya telah mengirim beras 3,3 ton, supermie 10 karton, sarden 10 karton.


Banjir di Pasbar merendam rumah warga sedikitnya 1.102 rumah. Tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Sasak Ranah Pasisia, Kinali dan Pasaman.


Warga Kelimpungan
Sedangkan di Solok, dampak banjir mulai dirasakan. Harga beras solok jenis asokan naik dari Rp 8.500 menjadi Rp 10.000 sekilo. Disusul beras jenis IR 66 Rp 9.000 dari Rp 8.000 sekilo.


Untuk memenuhi kebutuhan beras, masyarakat terpaksa beralih ke beras kualitas rendah dan oplosan. Bahkan, beras Dolog pun kini diserbu di pasaran.


Junaidi, 38, toke beras asal Nagari Talang menyebutkan, harga beras Rp 10.000 sekilo adalah di tingkat huller. Di pasar, lebih mahal lagi. Selain beras huller, kualitasnya kerap tidak terjamin.


Selain akibat terjangan banjir, naiknya harga beras juga disebabkan kesulitan menjemur padi dan mewabahnya hama tikus. Kini, stok beras di huller, gudang, dan di pasar makin menipis.


“Ditambah pula hasil panen petani hampir di seluruh daerah di Sumbar anjlok akibat banjir, sementara permintaan konsumen tetap tinggi,” paparnya.


Iyet, 43, warga Talang cemas menyikapi lonjakan harga beras. Iyet terpaksa membeli beras kualitas rendah dan oplosan seharga Rp 6.500 sekilo dalam sepekan ini. Selain beras, cabai merah juga naik. Kini menembus Rp 50.000 sekilo, tomat Rp 8.000 sekilo, disusul sayuran dan sembako. (mg9)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!